Placebo Effect

Ringkasan

Sering kali kita mendengar dari dokter kalau pengobatan alternative dan komplementer tidak lebih baik dari plasebo. Nah, sebenarnya apa sih maksudnya plasebo itu? Lalu apa dampaknya ketika kita tahu bahwa pengobatan tertentu lebih baik dari plasebo?

Summary

We often hear in the news that complementary and alternative medicine is no better than placebos. What exactly are placebos?  Also, what is the impact of knowing that certain treatments are no better than placebos?

Placebo-Page1

Apa Itu Plasebo?

Plasebo atau kadang disebut juga pil gula adalah obat atau tindakan yang tidak memiliki manfaat farmakologik di dalam tubuh. Contohnya, ketika peneliti ingin melihat efek plasebo untuk sakit gigi, maka peneliti memberikan obat nyeri yang sudah diakui (seperti asam mefenamat) ke grup percobaan A dan memberikan obat yang bentuknya sama tetapi isinya hanya tepung dan gula ke grup B (tablet/pil ini disebut plasebo).

Dari percobaan seperti inilah kita dapat mengetahui bahwa pengobatan tertentu jelas lebih baik dari plasebo atau tidak ada bedanya dengan plasebo.

Manfaat dan Cara Kerja Plasebo

Plasebo dapat mengurangi rasa nyeri dari jalur opioid (senyawa narkotik alami yang ada di tubuh) maupun non-opioid (senyawa lain yang mengurangi rasa nyeri). Artinya tubuh kita mengeluarkan senyawa molekul yang memblok rasa nyeri ketika kita mengkonsumsi plasebo. Anehnya lagi dengan memberikan antagonis opioid, nalokson (obat yang digunakan untuk mengobati kecanduan narkoba), efek plasebo tersebut hilang.

Dengan pemeriksaan Magnetic Resonance Imaging fungsional (fMRI) juga dapat dilihat bahwa orang yang responsif terhadap plasebo, terdapat penurunan aktivitas otak di daerah yang berperan untuk rasa nyeri. Ternyata efek plasebo tidak hanya mengurangi rasa nyeri yang dilapor oleh pasien, tetapi juga ada penurunan aktivitas di otak yang dapat dinilai dan diukur secara objektif. Dari percobaan tersebut kita tahu bahwa plasebo bukan saja menipu orang untuk berpikir bahwa dirinya menjadi baik, tetapi memang ada perubahan neuro-biologi dalam tubuh manusia bersangkutan.

Peran Pengharapan/Ekspektasi Terhadap Efek Plasebo

Tidak semua orang yang dapat plasebo lantas mendapat efek baiknya. Nampaknya peran pengharapan juga meningkatkan efek baik dari plasebo. Bila pasien yakin bahwa pengobatan A (isinya plasebo) dapat mengurangi rasa sakit, maka perubahan akvitivas di otak akan terlihat dan pasien akan merasakan rasa nyerinya berkurang jauh.

Lain halnya apabila pasien tidak yakin bawah pengobatan yang sama (masih plasebo) dapat mengurangi rasa sakitnya, maka pasien tersebut tidak menunjukan perubahan aktivitas di otak dan rasa nyerinya tidak berkurang. Di sini dapat kita lihat bahwa harapan akan keberhasilan suatu pengobatan plasebo berperan penting dalam merubah keluhan rasa nyeri yang dialami pasien.

Placebo-Page2Gambar 1. Mekanisme Nosebo

Sebaliknya bila pasien yakin bahwa pengobatan A (plasebo) memiliki efek buruk akan dirinya, maka pasien tersebut akan merasakan nyeri atau perasaaan tidak enak lainnya, serta terjadi perubahan aktivitas neurohomonal di otak (gambar 1). Efek kebalikan dari plasebo tersebut kita sebut nosebo.

Dari gambar tersebut juga dapat kita lihat bahwa efek nosebo akan hilang bila pasien diberi Proglumide {penghambat kolesistokinin (CCK)} atau Diazepam (obat penenang), yang alhasil akan menghambat pelepasan hormon stress seperti kortisol. Hal ini menunjukkan juga ada peran neuro-biologik yang mengatur efek plasebo dan nosebo, jadi bukan saja ilusi semata. Rangkuman efek nosebo dan plasebo dapat dilihat di gambar 2.

Placebo-Page3Gambar 2. Efek Plasebo dan Nosebo di Otak

Apakah Plasebo Dapat Mengobati Semua Penyakit?

Walaupun plasebo memiliki efek yang cukup baik terhadap keluhan yang dilaporkan oleh pasien (terutama nyeri dan rasa mual); plasebo tidak memiliki banyak pengaruh terhadap fungsi tubuh lainnya. Lain kata, plasebo bukan obat mujarab yang dapat menyembuhkan segala penyakit seperti depresi, penyakit jantung, ataupun jari yang terpotong.

Kendala lainnya adalah ketika pasien tahu bahwa suatu pengobatan itu plasebo, maka ekspektasi positif terhadap plasebo itu hilang dan berujung pada hilangnya efek yang mungkin diinginkan (seperti kurangnya rasa nyeri). Masih dibutuhkan banyak penelitian yang lebih lanjut untuk dapat mengerti fungsi plasebo sepenuhnya.

Placebo-Page3b

Jadi Pengobatan Apa Saja Yang Tidak Berbeda Dengan Plasebo?

· Akupunktur untuk nyeri sendi ataupun untuk nyeri secara umum (sejauh ini akupunktur memiliki efek yang sangat mirip dengan plasebo, namun butuh penelitian yang lebih besar dan akurat untuk lebih yakin)

· Homeopati (pengobatan alternatif dengan menggunakan senyawa yang membuat pasien bersangkutan sakit, tetapi dosis nya dikurangi atau diencerkan)

· Antibiotik untuk infeksi telinga tengah yang ringan

· Antibiotik (amoksisilin) untuk infeksi saluran nafas tanpa kecurigaan ke pneumonia (infeksi paru berat)

· Vitamin A, B, dan C untuk katarak yang muncul karena usia tua

· Anti-oksidan untuk mencegah kwashiorkor (kurang gizi protein)

· Multi-vitamin dan multi-mineral untuk mencegah kejadian serangan jantung, kanker, atau angka kematian secara umum

· Debridemen artroskopi untuk pasien osteoarthritis (tindakan bedah untuk membersihkan sendi pasien dengan osteoarthritis)

Masih banyak terapi, tindakan, atau pengobatan lain yang mungkin memiliki efek sama dengan plasebo. Konsultasikanlah dengan dokter anda untuk mengetahui lebih jauh.

Penulis: dr. Andrew Adiguna Halim

Sumber:
1. Benedetti, F., Mayberg, H. S., Wager, T. D., Stohler, C. S., Zubieta, Jon-Kar. (2005). Neurobiological mechanisms of the placebo effect. The Journal of Neuroscience, 25(45): 10390-10402. doi: 10.1523/JNEUROSCI.3458-05.2005

2. Hróbjartsson, A., Gøtzsche, P. C. (2010). Placebo interventions for all clinical conditions. Cochrane Database of Systematic Reviews, Issue 1. Art. No.: CD003974. doi: 10.1002/14651858.CD003974.pub3

3. Brown, J. A., Fowler, S. L., Rasinski, H. M., Rose, J. P., & Geers, A. L. (2013). Choice as a moderator of placebo expectation effects: Additional support from two experiments. Basic and Applied Social Psychology, 35(5), 436-444. doi:10.1080/01973533.2013.803968

4. Benedetti, F., Lanotte, M., Lopiano, L., Colloca, L. (2007). When words are painful: Unravelling the mechanisms of the nocebo effect. Neuroscience, 147, 260-271. doi:10.1016/j.neuroscience.2007.02.020

5. Deare, J. C., Zheng, Z., Xue, C. C. L., Liu, J. P., Shang, J., Scott, S. W., Littlejohn, G. (2013). Acupuncture for treating fibromyalgia. Cochrane Database of Systematic Reviews, Issue 5. Art. No.: CD007070. DOI: 10.1002/14651858.CD007070.pub2.

6. McCarney RW, Warner J, Fisher P, van Haselen R. (2003). Homeopathy for dementia. Cochrane Database of Systematic Reviews, Issue 1. Art. No.: CD003803. DOI: 10.1002/14651858.CD003803.

7. Heirs M, Dean ME. (2007). Homeopathy for attention deficit/hyperactivity disorder or hyperkinetic disorder. Cochrane Database of Systematic Reviews, Issue 4. Art. No.: CD005648. DOI: 10.1002/14651858.CD005648.pub2.

8. Venekamp RP, Sanders SL, Glasziou PP, Del Mar CB, Rovers MM. (2015). Antibiotics for acute otitis media in children. Cochrane Database of Systematic Reviews, Issue 6. Art. No.: CD000219. DOI: 10.1002/14651858.CD000219.pub4

9. Little, P., Stuart, B., Moore, M., Coenen, S., Butler, C. C., Godycki-Cwirko, M., … and Davies, M. (2013). Amoxicillin for acute lower-respiratory-tract infection in primary care when pneumonia is not suspected: a 12-country, randomised, placebo-controlled trial. The Lancet Infectious Diseases, 13(2), 123-129.

10. Mathew MC, Ervin AM, Tao J, Davis RM. Antioxidant vitamin supplementation for preventing and slowing the progression of age-related cataract. (2012). Cochrane Database of Systematic Reviews, Issue 6. Art. No.: CD004567. DOI: 10.1002/14651858.CD004567.pub2.

11. Odigwe CC, Smedslund G, Ejemot-Nwadiaro RI, Anyanechi CC, Krawinkel MB. (2010). Supplementary vitamin E, selenium, cysteine and riboflavin for preventing kwashiorkor in preschool children in developing countries. Cochrane Database of Systematic Reviews, Issue 4. Art. No.: CD008147. DOI: 10.1002/14651858.CD008147.pub2

12. Alexander, D. D., Weed, D. L., Chang, E. T., Miller, P. E., Mohamed, M. A., & Elkayam, L. (2013). A systematic review of multivitamin-multimineral use and cardiovascular disease and cancer incidence and total mortality. J Am Coll Nutr, 32(5), 339-354. doi:10.1080/07315724.2013.839909

13. Madsen Matias Vested, Gøtzsche Peter C, Hróbjartsson Asbjørn. (2009). Acupuncture treatment for pain: systematic review of randomised clinical trials with acupuncture, placebo acupuncture, and no acupuncture groups. BMJ; 338 :a3115

14. Laupattarakasem W, Laopaiboon M, Laupattarakasem P, Sumananont C. (2008). Arthroscopic debridement for knee osteoarthritis. Cochrane Database of Systematic Reviews, Issue 1. Art. No.: CD005118. DOI: 10.1002/14651858.CD005118.pub2.

Sebenarnya Masturbasi Baik atau Buruk?

Berikut ini akan dibahas mengenai kebiasaan masturbasi atau yang terkadang disebut juga sebagai onani/rancap/main sabun dari segi medis dan kesehatan.

Apa itu masturbasi ?

Masturbasi adalah stimulasi alat kelamin diri sendiri untuk mencapai kepuasaan seksual, umumnya sampai kepada orgasme (klimaks seksual). Dapat dilakukan dengan sentuhan, gesekan, pijatan, atau dengan alat bantu lainnya.

Apakah masturbasi normal ?

Masturbasi sebenarnya merupakan perbuatan yang umum dilakukan, bahkan pada orang yang sudah memiliki partner seksual. Sebuah studi mendapatkan bahwa 95% pria dan 89% wanita pernah melakukan masturbasi. Umumnya masturbasi merupakan pengalaman seksual pertama yang dialami pria maupun wanita. Masturbasi merupakan masalah ketika hal ini menganggu aktivitas seksual dengan partner seksual, dilakukan di publik, atau ketika hal ini menyebabkan gangguan pikiran pada seseorang dan menganggu aktivitas sehari-hari.

Penelitian di Inggris dengan jumlah 11.161 responden usia 16-44 tahun menemukan bahwa 73% pria dan 36.8% wanita melakukan masturbasi dalam kurun waktu 1 bulan. Masturbasi lebih sering dilakukan oleh mereka yang memiliki edukasi dan status sosial yang lebih tinggi. Untuk wanita, masturbasi lebih sering dilakukan oleh mereka yang pada 1 bulan terakhir melakukan hubungan seksual. Sedangkan pada pria lebih jarang untuk mereka yang telah melakukan hubungan seksual 1 bulan terakhir.

Bagi kaum penyuka sesama jenis, masturbasi lebih sering dilakukan. Masturbasi juga lebih sering dilakukan pada orang yang pada masa kecilnya pernah mengalami pelecehan seksual atau pernah mengalami kekerasan seksual.

Hal-hal yang menjadi alasan untuk melakukan masturbasi

  • Masturbasi terasa menyenangkan. Hal ini disebabkan sekresi hormon dopamin dan oksitosin di otak.
  • Cara orang menghilangkan ketegangan seksual
  • Menghindari kemungkinan kehamilan sebelum pernikahan yang terkadang berakhir pada aborsi
  • Terhindar dari resiko penularan penyakit menular seksual
  • Untuk keperluan uji infertilitas ataupun donasi sperma.
  • Membantu tidur
  • Melatih ereksi dan performa seksual dalam berhubungan
  • Meningkatkan imunitas karena pengeluaran hormon kortisol yang meningkatkan sistem imunitas tubuh
  • Hal ini masih menjadi perdebatan. Namun beberapa studi mengatakan pria yang ejakulasi lebih dari 3 kali seminggu berkurang kemungkinan kankernya 1/3 kali. Hal ini disebabkan karena toksin yang berada di saluran kencing keluar saat ejakulasi
  • Membantu seseorang mengetahui stimulasi apa yang menyebabkan seseorang terangsang
  • Pada wanita dapat meningkatkan kekuatan otot panggul sehingga mengurangi kemungkinan sulit menahan kencing maupun peranakan turun saat tua nanti.

Hal negatif seputar masturbasi

  • Efek negatif pada psikologis seseorang. Banyak orang merasa malu dan bersalah karena kebiasaan masturbasinya. Perasaan ini dapat disebabkan budaya, agama maupun moral. Efek rasa bersalah ini dapat menyebabkan gangguan psikologis seperti rasa malu, rasa bersalah, panik yang dapat berakibat pada rasa sakit kepala, sakit punggung maupun nyeri kronis.
  • Masturbasi kronis menyebabkan peningkatan hormon seks dan senyawa di otak. Produksi berlebihan zat ini dapat menyebabkan rasa lelah, nyeri pinggang, gangguan penglihatan, nyeri pinggang, nyeri pada alat kelamin maupun kebotakan.
  • Masturbasi berhubungan dengan perasaan obsesif kompulsif (tidak berhubungan dengan jumlah), seseorang merasa ada yang kurang bila tidak melakukannya. Hal ini bila berlangsung terus dapat menganggu produktivitas seseorang karena menganggu pikiran.
  • Masturbasi mengurangi kemampuan performa seksual. Pada sebuah penelitian dikatakan bahwa terjadi penurunan kadar testosteron pada orang yang melakukan masturbasi lebih dari 1 kali seminggu.

Beberapa mitos seputar masturbasi

  • Tidak menyebabkan pertumbuhan rambut pada telapak tangan atau lengan atau daerah lainnya
  • Tidak mengurangi kemampuan ereksi. Bukti ilmiah mengatakan bahwa umur, diet, merokok dan kesehatan kardiovaskuler merupakan faktor yang menentukan tingkat kekerasan ereksi. Efek samping masturbasi yang lain adalah abrasi ataupun bengkak pada penis. Karena beberapa orang menggunakan tangan secara kasar atau tidak menggunakan pelumas saat melakukannya.
  • Tidak menyebabkan jerawat
  • Tidak menyebabkan kebutaan
  • Tidak menyebabkan penyusutan, pertumbuhan, perubahan warna, tekstur maupun penampilan organ kelamin
  • Menyebabkan pertumbuhan terhenti
  • Tidak menyebabkan gangguan infertilitas
  • Tidak menyebabkan gangguan ataupun cedera lainnya
  • Tidak menyebabkan gangguan jiwa atau instabilitas jiwa
  • Tidak menyebabkan seseorang menjadi gay

Tips menghentikan masturbasi

Hal berikut dapat anda coba bila anda merasa bahwa masturbasi menyebabkan gangguan dalam kehidupan anda.

  • Buat kesibukan yang mengasyikkan misalnya olahraga, memasak atau hobi lainnya
  • Mandi air dingin bila keinginannya mulai muncul
  • Pikirkanlah keluarga atau orang yang anda cintai saat ingin melakukannya
  • Cermati kapan anda melakukan masturbasi. Apabila anda sering melakukannya sepulang sekolah, buat kesibukan baru sepulangnya dari sekolah
  • Bila anda masturbasi karena anda kesepian jadilah sesosial mungkin dengan orang-orang
  • Kadang kita masturbasi dengan mudahnya karena “film biru” itu ada di file computer kita. Jadi, hapuslah file tersebut untuk mempersulit “jalan pintas” itu
  • Berikanlah hadiah atas kemampuan anda untuk menghindari masturbasi
  • Bila anda tidak dapat menghentikan kebiasaan ini dan berakibat buruk terhadap kehidupan maupun produktivitas anda, sebaiknya mulai mencari bantuan dokter, psikolog, pemuka agama atau orang yang anda percayai.

Kesimpulan

Jadi, bagaimana seseorang harus menghadapi masturbasi? Hal ini sebaiknya ditanyakan kepada diri sendiri. Apakah masturbasi menganggu produktivitas maupun kualitas kehidupan kita ?

Daftar Pustaka

  1. http://www.medicalnewstoday.com/releases/136672.php
  2. http://www.menshealth.com/sex-women/masturbate-every-day
  3. http://www.webmd.com/sex-relationships/guide/masturbation-guide
  4. http://www.askmen.com/dating/love_tip/500_negative-side-effects-of-masturbation.html
  5. https://www.plannedparenthood.org/learn/sexuality/masturbation
  6. http://www.lehmiller.com/blog/2014/3/3/a-scientists-response-to-the-war-on-masturbation
  7. http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/085/
  8. http://www.wikihow.com/Stop-a-Masturbation-Addiction
  9. http://link.springer.com/article/10.1007/s10508-006-9123-6
  10. http://link.springer.com/article/10.1023/A:1020616722684#page-1
  11. http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0301051105001110
  12. http://www.peninggitubuh.com/onani-dan-masturbasi-menghambat-pertumbuhan-tinggi-badan.html
  13. http://www.trendnews.co.id/read/2014/12/fakta-fakta-masturbasi-yang-sering-terlupakan

Are stem cells really the miracle cure?

At a Glance

Are stem cells really the miracle cure?  Will they be able to cure every disease and condition?  Take a quick look at this article to better grasp the potential of stem cell therapy.

Sekilas

Apakah sel punca merupakan masa depan ilmu kedokteran? Mungkinkah sel punca dapat menyembuhkan semua penyakit yang kita kenal? Marilah simak artikel berikut untuk melihat prospek dari terapi sel punca.

Sel Punca atau Stem Cell: Benarkah Merupakan Masa Depan Kedokteran?

Punca-1

 

Apa Sebenarnya Sel Punca Itu?

Sel punca atau stem cell adalah sel dari makhluk hidup multi-selular yang belum berdiferensiasi, yang mempunyai kemampuan untuk membelah tanpa batasan dan menghasilkan sel-sel yang serupa, dan sel-sel tersebut juga dapat menjadi sel jenis lain oleh proses diferensiasi.

Singkat kata sel ini dapat menjadi sel apapun yang terdapat di makhluk hidup bersangkutan. Sel ini dapat menjadi sel otot/ginjal/otak/jantung di manusia dan hewan penelitian. Oleh karena properti sel punca yang dapat membelah tanpa batas dan dapat berubah menjadi sel apapun, banyak sekali riset biomolekular yang sedang berlangsung di area ini demi mendapatkan terapi ideal untuk berbagai kondisi penyakit.

Jenis-jenis Sel Punca

Secara umum dibagi menjadi dua, yaitu sel punca embryonic dan sel punca somatic/dewasa. Sel punca embryonic diambil dari inti blastosit, tahap dimana struktur tersebut sudah siap untuk implantasi ke rahim (Baca: PROSES KEHAMILAN). Sedangkan sel punca somatik dapat ditemukan di berbagai lokasi di tubuh manusia dewasa. Perbedaan lokasi didapatnya kedua jenis sel punca ini dapat dilihat di gambar 1 dan 2.

Berdasarkan potensinya sel punca embrionik memiliki kemampuan membelah menjadi semua jenis sel di tubuh organisme besangkutan. Berbeda dengan sel punca somatik yang kemampuannya lebih terbatas sebab sel ini sudah mencapai tahap dimana dia hanya dapat berdiferensiasi menjadi sel-sel di sekitarnya. Contohnya, sel punca di kulit hanya bisa berdiferensiasi menjadi sel-sel di kulit saja.

Punca-2a

Gambar 1. Sel Punca Embrionik dan Sel Punca Somatik

Punca-2bTerdapat satu jenis sel punca lagi yang memiliki potensi riset sangat baik, yaitu induced pluripotent stem cells. Sel ini pada dasarnya adalah sel punca somatik yang diprogram secara genetik sehingga memiliki potensi dan sifat seperti sel punca embrionik. Sel punca tipe ini karena diambil dari tubuh pasien juga, mengurangi risiko rejeksi (respon tubuh untuk menolak sel asing) karena berasal dari tubuh sendiri. Sekarang ini banyak peneliti yang mengembangkan teknik tersebut agar dapat menghasilkan sel punca yang lebih efektif untuk mengatasi berbagai penyakit pada manusia.

Benarkah Sel Punca Dapat Mengobati Semua Penyakit?

Tentu beberapa dari kita pernah mendengar ada orang yang mendapatkan terapi sel punca untuk penyakit jantung-nya atau stroke-nya dan lain-lain. Sering kali kita dengar orang tersebut membaik drastis dan tidak perlu pengobatan lagi. Apakah benar demikian?

Sebelum kita menjawab pertanyaan di atas, baiknya kita mengenal dulu bagaimana tantangan yang dihadapi para ilmuan dalam mengembangkan terapi sel punca. Contoh tantangan-tanganan tersebut:

  • Belum ada standard untuk terapi sel punca

Banyak sekali cara untuk mengisolasi sel punca, mengiunkubasinya, mereplikasinya, dan cara-cara pemberiannya ke sukarelawan. Sampai saat ini belum ada satu jalur yang disetujui yang dapat menghasilkan terapi sel punca yang efektif (setelah diuji secara statistik).

 

  • Terlalu banyak variasi teknik

Untuk mengisolasi sel punca saja terdapat berbagai cara seperti mengambilnya dari darah atau sum-sum tulang atau jaringan lemak atau dari blastosit. Belum lagi kita bicarakan cara mereplikasinya di laboratorium agar mendapatkan jumlah sel punca yang cukup banyak. Setelah itu peneliti masih harus pusing bagaimana caranya untuk mengirim sel punca tersebut ke dalam target organ, apakah dengan transplantasi langsung (risiko tinggi) atau melalui pembuluh darah (belum tentu sampai ke target organ) dan perlukah memodifikasi ekspresi protein tertentu agar lebih akurat mencapai target organ.

Punca-3

  • Kondisi pasien yang seperti apa yang bisa menerima sel punca

Apakah semua pasien, semua umur, dan semua kondisi tubuh bisa menerima terapi sel punca dengan baik? Apakah usia 40 tahun sama dengan 70 tahun? Tentu saja tidak, risiko tindakan dan risiko kegagalan setiap orang sangat bervariasi. Kerusakan organ tubuh sejauh mana yang masih dapat menerima sel punca? Sampa saat ini belum ada standard yang disetujui untuk memastikan sel punca yang kita berikan tidak sia-sia, sering kali kerusakan di tubuh pasien tertentu sudah terlalu luas sehingga terapi sel punca tidak membantu sama sekali.

  • Apakah berhasil berdiferensiasi

Punca-3bSetelah sampai ke target organ, apakah sel punca tersebut berhasil berdiferensiasi dan apakah diferensiasinya sukses membentuk sel yang sesuai dan fungsional.

 

  • Tubuh kita meberikan reaksi rejeksi

Sama seperti transplantasi, sistim pertahanan tubuh akan menyerang apapun yang dimasukan ke dalam tubuh, termasuk sel punca. Meskipun secara teori sel punca yang dibiakan dari tubuh sendiri memiliki risiko minimal penolakan, kemungkinan tersebut tetap ada dan hal itulah yang membuat terapi sel punca hanya sedikit efektif untuk jangka pendek.

  • Biaya penelitian yang sangat mahal

Karena biaya yang dibutuhkan sangat mahal, hampir semua penelitian sel punca harus menarik biaya yang sangat besar dari subjek penelitian. Bila anda yang sudah pernah menjalani terapi tersebut pasti akan diminita informed consent (menandatangani dan menyatakan bahwa anda sudah mengerti sepenuhnya akan kondisi dan risiko terapi sel punca). Biaya yang ditarik dari subjek penelitian berkisar antara US$5.000 sampai US$50.000. Lebih lagi, apabila suatu penelitian dibiayai oleh perusaan pencari keuntungan maka hasil penelitian akan menjadi bias (cenderung mempublikasikan data yang bagus saja).

Punca-4Untuk menentukan efektifitas suatu terapi, terapi tersebut harus melalu fase percobaan klinis yang memakan waktu lama dengan kriteria yang sangat ketat. Setelah melalui tahap itupun, hasil penelitian-penelitian tersebut masih dapat dibantah apabila penelitian dalam bentuk systematic review (tingkat pembuktian paling tinggi) menemukan bukti baru. Bank data untuk penelitian systematic review dapat dilihat di Cochrane Library. Hasil-hasil studi dari Cochrane Library dan berbagai bank data lainnya, mengatakan bahwa terapi sel punca masih membutuhkan banyak penelitian lebih lanjut untuk menentukan efektivitas dan keamanannya.

 

Situasi Penelitian Sel Punca Saat Ini

  • Saat ini 3.000 penelitian terkait sel punca sedang berlangsung
  • Mekanisme terapi sel punca masih belum jelas; diduga efektivitasnya bukan dari sel punca itu sendiri, melainkan dari produksi sitokin dan growth promoting factors (senyawa yang diproduksi oleh sel punca)
  • Belum ada standard untuk terapi sel punca

Risiko efek teratogenik (membentuk sel yang tidak sesuai dengan tujuan) dan reaksi imunitas tubuh

  • Walaupun risiko efek samping sangat jarang dilaporkan, bukan berarti aman. Sebab hampir seluruh penelitian sel punca memiliki sampel penelitian yang kecil dan jangka penelitian yang pendek (tidak sempat mendeteksi efek samping)Punca-5
  • Tidak ada data berapa banyak klinik terapi sel punca yang sebenarnya fraud atau penipuan. Sebab belum ada regulasi dan standard yang jelas untuk memberikan lisensi kepada klinik yang menjalankan praktik tersebut.

Kesimpulannya, masih butuh banyak sekali penelitian dalam jangka waktu yang lama berupa long-term randomised controlled trial untuk memastikan terapi sel punca benar-benar efektif dan aman. Meskipun demikian, penelitian sel punca yang sudah ada telah memberikan banyak sekali ilmu baru mengenai komunikasi, regulasi, dan sifat-sifat sel (terutama in vitro). Ilmu tersebut sangat bermanfaat untuk kemajuan teknologi dan pemahaman mengenai sel punca dan sel tubuh manusia secara umum.

Penulis: dr. Andrew Adiguna Halim

Referensi:

  1. Google Search. (November 24, 2015). “Stem cell definition”. https://www.google.co.nz/search?sourceid=chrome-psyapi2&ion=1&espv=2&ie=UTF-8&q=stem%20cell%20definition&oq=stem%20cell&aqs=chrome.0.69i59l3j69i57j69i61l2.1309j0j7
  2. National Institute of Health. (2015). Stem cell basics. Diunduh dari: http://stemcells.nih.gov/info/basics/pages/basics1.aspx
  3. Daley, G. Q., & Scadden, D. T. (2008). Prospects for stem cell-based therapy. Cell, 132. doi:10.1016/j.cell.2008.02.009
  4. Stoltz, J.-F., de Isla, N., Li, Y. P., Bensoussan, D., Zhang, L., Huselstein, C., … He, Y. (2015). Stem cells and regenerative medicine: Myth or reality of the 21th century. Stem Cells International, 2015, 734731. doi:doi.org/10.1155/2015/734731
  5. Taylor-Weiner, H., & Zivin, J. G. (2015). Medicine’s wild west — Unlicensed stem-cell clinics in the United States. New England Journal of Medicine, 373, 11. doi:10.1056/NEJMp1504560
  6. Van der Heyden, M. A. G., van de Ven, T., & Opthof, T. (2009). Fraud and misconduct in science: the stem cell seduction: Implications for the peer-review process. Netherlands Heart Journal, 17(1), 25–29. Diunduh dari: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2626656/
  7. Oringanje, C., Nemecek, E., & Oniyangi, O. Hematopoietic stem cell transplantation for people with sickle cell disease. Cochrane Database of Systematic Reviews 2013, 5. Art. No.: CD007001. doi:10.1002/14651858.CD007001.pub3.
  8. Siddiq, S., Pamphilon, D., Brunskill, S., Doree, C., Hyde, C., & Stanworth, S. Bone marrow harvest versus peripheral stem cell collection for haemopoietic stem cell donation in healthy donors. Cochrane Database of Systematic Reviews 2009, 1. Art. No.: CD006406. doi:10.1002/14651858.CD006406.pub2.
  9. Fisher, S. A., Brunskill, S. J., Doree, C., Mathur, A., Taggart, D. P., & Martin-Rendon, E. Stem cell therapy for chronic ischaemic heart disease and congestive heart failure. Cochrane Database of Systematic Reviews 2014, 4. Art. No.: CD007888. doi:10.1002/14651858.CD007888.pub2.
  10. Boncoraglio, G. B., Bersano, A., Candelise, L., Reynolds, B. A., & Parati, E. A. Stem cell transplantation for ischemic stroke. Cochrane Database of Systematic Reviews 2010, 9. Art. No.: CD007231. doi:10.1002/14651858.CD007231.pub2.

Apakah anak saya bodoh?

Apakah anak saya bodoh?

Summary

Does your child struggle in school?  Is your child clever but still very poor with numbers?  Perhaps your child has learning disabilities.   Help is available.  Learn how to identify the signs and help you child if they have certain learning disabilities.

Ringkasan

Apakah anak anda mengalami kesulitan di sekolahnya? Walaupun anak anda termasuk anak yang pintar namun dia sangat buruk ketika berurusan dengan angka-angka? Mungkin saja anak anda sebetulnya memiliki gangguan belajar. Carilah bantuan segera dan ketahuilah beberapa cara yang dapat membantu seseorang dengan gangguan belajar

Keywords: learning, disorder, disability, children

Apakah anak saya bodoh?Apakah anak saya bodoh?

Saat penerimaan rapport pertama…

Sebagai orang tua, tentu semua orang ingin agar anaknya menjadi yang terbaik. Anda akan merasa bangga apabila anak anda ternyata menjadi juara kelas. Namun ketika melihat nilai rapport anak anda untuk pertama kali, anda terkejut karena ada satu mata pelajaran yang memiliki nilai merah. Anda memarahi anak anda dan memaksanya untuk belajar lebih keras dalam pelajaran tersebut. Namun sekeras apapun anak anda mencoba, nilainya tidak pernah sebaik anak-anak lainnya.
Mungkin saja anak anda ternyata menderita gangguan belajar. Anak-anak dengan gangguan belajar bukanlah anak yang bodoh atau malas. Mereka hanya memiliki cara yang berbeda dalam menerima dan memproses suatu informasi. Mereka melihat, mendengar dan memahami suatu hal berbeda dengan anak pada umumnya. Anak-anak ini seringkali disalahartikan padahal mereka bisa sukses dan berhasil asalkan mendapat bantuan yang tepat.

Benarkah anak saya tidak normal?

Setiap anak tidak dilahirkan sama, anak-anak dengan gangguan belajar sering dikatakan bodoh atau bahkan lebih parahnya lagi idiot. Hal ini membuat mereka menjadi kurang percaya diri atau bahkan sering dijahili oleh teman-teman sebayanya (disebut juga bullying). Untuk mengetahui contoh lebih lanjut mengenai bullying anda dapat membaca artikel CYBERBULLYING – APA SAJA YANG ORANGTUA DAPAT LAKUKAN?

Apakah anak saya bodoh?

Anak-anak dengan gangguan belajar tidak nampak berbeda dari luar ditambah lagi setiap anak memiliki gejala yang berbeda. Satu anak dapat mengalami kesulitan dalam membaca dan mengeja, sementara anak yang lain tidak dapat mengerti matematika. Ada juga anak yang mengalami kesulitan dalam memahami percakapan orang lain.
Tidaklah mudah untuk mengetahui adanya gangguan belajar. Bahkan terkadang seorang anak memiliki beberapa jenis gangguan belajar sekaligus. Berikut beberapa tanda yang dapat dipakai untuk mendeteksi adanya gangguan belajar sesuai dengan kelompok usianya

Pada usia 3 – 5 tahun

  • Kesulitan mengucap kata
  • Kesulitan menemukan kata yang tepat
  • Kesulitan mempelajari alfabet, angka, warna, bentuk ataupun hari
  • Kesulitan mengikuti arah atau rutinitas pembelajaran
  • Kesulitan mengendalikan alat tulis, gunting atau seringkali mewarnai diluar garis
  • Kesulitan dengan kancing, risleting, dan tali sepatu

Pada usia 5 – 9 tahun

  • Kesulitan mempelajari hubungan antara huruf dan suara
  • Bingung dengan kata-kata dasar ketika membaca
  • Selalu tidak dapat mengeja huruf dengan tepat
  • Kesulitan mempelajari konsep matematika dasar
  • Kesulitan mengetahui jam berapa dan mengingat urutan
  • Lamban dalam mempelajari kemampuan baru

Pada usia 10 – 13 tahun

  • Kesulitan dengan pemahaman atau matematika
  • Kesulitan dengan pertanyaan yang bersifat terbuka
  • Tidak menyukai membaca dan menulis serta menghindari membaca dengan keras
  • Selalu mengeja suatu kata berbeda
  • Kemampuan organisasi yang sangat buruk (biasanya memiliki tempat tidur, buku dan meja yang sangat berantakan)
  • Kesulitan mengikuti diskusi dalam kelas dan mengutarakan pikirannya
  • Memiliki tulisan tangan yang buruk

Dapat anda perhatikan bahwa gangguan belajar yang paling banyak dialami adalah gangguan belajar dalam hal membaca (dyslexia), matematika (dyscalculia), dan menulis (dysgraphia). Akan tetapi gangguan belajar ternyata memiliki cakupan yang lebih luas yakni dyspraxia (gangguan dalam kemampuan motorik seperti memotong, menulis, berlari atau melompat), dysphasia (gangguan dalam memahami atau mengucapkan suatu bahasa) dan gangguan memproses bahasa ataupun suara dan lainnya.

Bahkan seringkali anak-anak dengan gangguan belajar dikaitkan dengan gangguan lainnya yang dapat mempersulit proses pembelajaran mereka seperti ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), OCD (Obsessive-Compulsive Disorder) dan bahkan autisme.

Penting sekali untuk diingat bahwa gangguan belajar ini tidak dapat diubah atau diperbaiki sehingga menjadikannya sebuah tantangan tersendiri bagi orang tua dan juga sang anak. Akan tetapi dengan dukungan dan intervensi yang sesuai mereka tetap dapat mencapai keberhasilan dalam hidupnya.

Kapan sebaiknya anak saya diperiksakan?

Permasalahan dengan gangguan belajar masih mencakup hal yang lebih luas. Bila anda ragu apakah anak anda memiliki gangguan belajar tidak ada salahnya bila anda memeriksakan anak anda lebih lanjut agar dapat diketahui sedari dini.

Bahkan seringkali dibutuhkan lebih dari 1 ahli untuk mendiagnosa secara tepat dan menatalaksana seorang anak dengan gangguan belajar. Jadi janganlah ragu untuk melakukan konsultasi dengan lebih dari satu dokter ahli tentunya atas seijin dokter yang bersangkutan.

Apa yang dapat anda lakukan sebagai orang tua?

Tentu yang mengetahui anak anda dengan baik adalah anda sendiri sebagai orang tuanya. Selain harus ada koordinasi lebih lanjut dengan tempat anak anda belajar tentu ada yang dapat anda lakukan

  • Ketahuilah jenis gangguan belajar pada anak anda

Caritahulah lebih dalam mengenai gangguan belajar yang dialami oleh anak anda. Caritahu juga mengenai gangguan-gangguan lain yang mungkin diderita oleh anak anda. Akan lebih mudah untuk mengetahui jenis pembelajaran yang tepat bila anda mengetahui bagaimana kesulitan yang anak anda alami. Lakukanlah berbagai kegiatan positif yang dapat mengalihkan pikirannya dari kelemahannya tersebut.

  • Lakukan terapi dan belajar di rumah

Terkadang pihak sekolah seringkali angkat tangan dalam memberikan bantuan yang khusus pada anak dengan gangguan belajar. Hal ini tidak boleh menyurutkan niat anda untuk memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak anda. Konsultasikanlah dengan dokter ahli agar mendapat berbagai pilihan terapis atau tutor yang dapat membantu anak anda dirumah. Berbagai jenis terapi telah dikembangkan untuk jenis ganApakah anak saya bodoh?gguan belajar tertentu, jadi janganlah ragu untuk mendiskusikan hal ini dengan dokter ahli anak anda.

  • Kembangkanlah bakat anak anda

Anak dengan gangguan belajar memang mungkin sulit mempelajari satu bidang namun mereka sering memiliki keunggulan di bidang lain. Perhatikanlah minat dan bakat anak anda agar anda dapat mengembangkan anak anda semaksimal mungkin.

  • Berikan dukungan mental pada anak anda

Anak-anak dengan gangguan belajar seringkali memiliki tingkat kepercayaan diri yang rendah. Bagaimana tidak? Mereka melihat anak-anak lain dapat melakukan hal yang dia tidak bisa dengan mudahnya. Orang tua lah yang memiliki peran yang sangat besar untuk tetap mendukung anaknya agar tetap tenang dan percaya diri.

  • Kegagalan bukanlah hal yang buruk

Apakah anak saya bodoh?Orang tua harus memahami bahwa sebuah kegagalan bukanlah hal yang buruk. Sangat penting untuk menyampaikan pada anaknya bahwa kegagalan tidak perlu ditakuti. Terimalah kegagalan itu sebagai sebuah proses. Pelajarilah kegagalan tersebut agar kesuksesan dapat dicapai.

Setiap anak memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Bukan berarti dengan sedikit kesulitan dalam mempelajari suatu kemampuan membuat anak anda menjadi seseorang yang tidak akan berhasil dalam hidupnya. Tetaplah berikan dukungan kepada anak anda dan berikanlah bantuan yang sesuai dan dapat membangun anak anda sehingga menjadi anak yang bahagia kelak.

Dibuat oleh: dr. Hartanto

 

Daftar Pustaka

  1. http://www.helpguide.org/articles/learning-disabilities/learning-disabilities-and-disorders.htm
  2. http://ldaamerica.org/types-of-learning-disabilities/
  3. https://www.understood.org/en/learning-attention-issues/child-learning-disabilities/dyslexia/understanding-dyslexia
  4. https://www.understood.org/en/school-learning/partnering-with-childs-school/instructional-strategies/11-methods-for-teaching-reading#slide-11
  5. http://www.childmind.org/en/posts/articles/2013-4-9-most-common-misdiagnoses-children
  6. http://www.childmind.org/en/posts/ask-an-expert/2014-7-29-my-son-dyslexia-frustrated-outside-school
  7. http://www.childmind.org/en/posts/articles/2015-10-12-social-media-teens-and-perfectionism

 

 

Ayo Makan Sayur Bareng Si Kecil

Summary

Do you have children around 1-3 years old who doesn’t like to eat or is a picky eater, especially when it comes to eating vegetables?   Did you ever wonder if this behaviour is normal for young children or does it have something to do with how we introduce our children to vegetables?   This article takes a closer look at this subject and also provides tips on how to make our children eat their ‘greens”.

Ringkasan

Anak Anda berusia 1-3 tahun yang susah makan serta suka pilih –pilih makanan, terutama sayuran hijau? Apakah ini sesuatu yang normal atau ada yang salah dengan pemberian makanan dari Anda? Simak pembahasannya di artikel berikut tentang tips bagaimana membuat anak Anda bisa makan sayur.

Ayo Makan Sayur Bareng Si Kecil

AyoMakanSayur-Page1

Ketika anak beusia 1 sampai 2 tahun merupakan fase “Perang dunia” antara ibu dan si kecil saat jam makan, ibu menyodorkan makanannya dan si kecil menutup mulutnya rapat-rapat. Hal ini pasti akan sangat melelahkan buat orang tua, terutama Ibu. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa mereka tidak suka makan terutama sayuran?

Apa Yang Terjadi?

Pada saat 4 bulan pertama kehidupan, anak menggunakan 27% dari yang di makan untuk pertumbuhan. Kemudian pada usia 6-12 bulan hanya sekitar 5% dari makanan digunakan untuk pertumbuhan, sedangkan pada tahun ke-2 hanya sebanyak 3% dari makanan yang digunakan untuk pertumbuhan si kecil. Selama 1 tahun pertama, anak akan bertumbuh sekitar ± 21 cm dan berat bertambah sekitar 6-7 kg, dengan kata lain pertumbuhan terjadi sebanyak 3 kali lipat saat di usia 1 tahun pertama.

Pertumbuhan anak yang cepat pada awal-awal kehidupan menjadi alasan kenapa anak banyak minum ASI dan lahap saat diberikan makanan pendamping. Setelah anak memasuki usia 1 tahun, secara alami pertumbuhan akan mulai melambat, aktivitas motorik meningkat, dan secara otomatis nafsu makan akan cenderung menurun. Pertumbuhan sedikit lebih lambat karena perkembangan otak dan sistem saraf somatik mulai melambat.

Saat pertumbuhan melambat, energi untuk bertumbuhpun berkurang dan mempengaruhi nafsu makan anak. oleh karena itu saat anak berusia 1-3 tahun, nafsu makannya berkurang. Banyak orang tua yang berpikir “Saat anakku bertambah usianya maka harusnya dia makan lebih banyak.” Sehingga orang tua akan memberikan makan 2 kali lebih banyak saat usianya bertambah, padahal sudah sangat alami di usia ini memang anak akan cenderung sulit makan. Jadi, sampai kapan si kecil akan susah makan? Tidak lama, situasi ini hanya terjadi sementara. Faktanya, saat usia sudah memasuki 5 sampai 7 tahun anak akan secara otomatis makan lebih banyak, karena di usia ini lah ukuran tubuh akan bertambah.

Apa Saja Yang Harus Ada di Piringnya si Kecil?

Ketika anak-anak memasuki usia 1 tahun, orang tua rata-rata bingung dan cemas karena anak menjadi sulit makan dan suka pilih-pilih makanan (picky eater). Jangan cemas, hal ini normal terjadi pada anak usia 1-3 tahun, tentunya sang orang tua tetap harus mencukupi kebutuhan nutrisi si buah hati.

Untuk mengetahui apa yang dibutuhkan anak secara tepat dibutuhkan panduan yang tepat mengenai makanan si kecil. United State Department of Agriculture (USDA) pada tahun 2010 merekomendasikan MyPlate sebagai panduan untuk kebutuhan nutrisi anak dan dewasa. Untuk anak usia 1-3 tahun, Myplate memberikan rekomendasi untuk satu piring harus terdiri dari: (untuk lebih lengkap dapat dilihat di http://www.choosemyplate.gov)

  1. Buah: 1 gelas atau ± 250 ml (Apel, pisang, melon, jeruk, anggur, pir, nanas, semangka, stroberi).
  2. Sayuran: Brokoli, bayam, wortel, tomat, kentang, jagung.
  3. Biji-bijian/gandum: Nasi, sereal/oatmeal.
  4. Protein: Daging sapi, ayam tanpa kulit, telur.
  5. Susu: susu, yogurt.

AyoMakanSayur-Page4

Gambar 1. MyPlate Guideline

Anak secara alami lebih menyukai makanan dan minuman yang manis. Jadi mereka lebih menyukai minuman seperti soda, jus kemasan, teh kemasan atau es krim dan makanan cemilan lainnya. Semakin banyak makan makanan manis seperti ini membuat anak tidak menyukai sayuran atau buah saat jam makan.

Penyebab si kecil TIDAK SUKA SAYUR?

Setelah mengetahui pola perkembangan nafsu makan anak dan apa saja yang harus dimakan si kecil, jadi sebenarnya apa saja sih penyebab si kecil sulit makan sayur?

  1. Sayur rasanya pahit. Pada masa pertumbuhan, anak lebih menyukai makanan yang manis dan asin.
  2. Anak tidak menyukai aroma sayur.
  3. Sayur susah dikunyah. Anak usia 1-2 tahun belum dapat mengunyah secara sempurna, Jika tekstur sayur keras, akan membuat anak susah mengunyah.
  4. Anak sudah makan atau minum-minuman manis sebelumnya. Tentu saja karena rasa manis lebih menyenangkan.
  5. Orang tua tidak makan sayur. “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” jika anda ingin anak anda makan sayur, mulailah dahulu dari diri sendiri.
  6. Orang tua memaksa anak untuk makan. Ketika anda menjejalkan makanan ke mulut anak secara paksa, akan membuat mereka “bad mood” dan tidak suka makanan itu.
  7. Rayuan yang tidak sesuai dengan tujuannya, “Kalo adek habisin sayurnya, nanti mama beliin es krim.” Anda sukses membuat si kecil lebih menyukai es krim dibanding sayuran.

Tips Agar Anak Makan Sayur

AyoMakanSayur-Page5

1. Makan bersama keluarga di meja makan. Jangan membiasakan anak makan di depan televisi. Dengan makan bersama hal muncul kekeluargaan dan didalam satu meja orangtua memiliki kesempatan untuk memberikan contoh dan mengajarkan anak pola makan yang benar.

2. Ajak anak anda siapkan makanan. Untuk anak yang sudah cukup besar, Anda dapat meminta dia untuk membantu mencuci sayuran dan membantu menyiapkan makanan bersama. Hal ini akan membuat anak Anda tertarik dengan sayuran dan makanan yang disiapkan bersama.

3. Sajikan sayuran sebagai makanan pembuka saat anak lapar. Awalnya anak akan menolak, tetapi jangan memaksa dan terus tawarkan. Kebiasaan ini akan membuat anak terbiasa makan sayur. Ada baiknya menawarkan sayuran yang anak sudah kenal dan saat makan selanjutnya barulah mencoba sayuran jenis baru.

AyoMakanSayur-Page6

4. Jadi contoh buat anak anda. Sajikan sayuran di piring anda. Ini secara tidak langsung mempengaruhi anak untuk mencoba sayur di piringnya juga.

5. Sabar dan jangan memaksa. Untuk mengenalkan 1 jenis sayur terkadang sudah dicoba sebanyak 8-15 kali menyodorkan sayuran untuk si kecil tetapi selalu di tolak. Jangan menyerah dan coba tawarkan kembali 2-3 hari kemudian. Ketika anak bilang sudah kenyang, jangan paksa menghabiskan makanan di piringnya. Saat dia lapar mulailah menawarkan sayur kembali.

6. Hidangkan dalam bentuk menarik. Setumpuk bayam tidak akan menarik untuk anak. Coba hias sayur menjadi lucu seperti potongan wortel dibuat jadi mata dan buat anak anda tertawa, itu akan membuat anak penasaran dan mencoba sayurannya.

7. “Sekali gigit.” Anak tidak tertarik dengan sayur karena aroma dan bentuknya yang tidak menarik. Coba terapkan aturan satu gigitan untuk setiap makanan yang disajikan termasuk sayuran. Ini sebagai cara juga untuk memperkenalkan rasa beberapa sayur tidak seburuk yang mereka lihat.

8. Berikan pujian. Pujilah anak ketika dia mau makan sayur. Jangan obral janji seperti akan membelikan mainan atau jajan di warung, karena akan memberikan hubungan tidak sehat dengan makanan.

Proses pemilihan makanan, kebiasaan keluarga, dan pola makan mempengaruhi apa yang anak makan saat dia dapat memilih makanannya sendiri. Oleh karena itu orang tua dituntut dapat mengerti apa yang menjadi kebutuhan nutrisi anak sehingga ketika dewasa, anak dapat menentukan makanannya dengan bijak.

Oleh: dr. Yi Yin Meria Daini

Referensi:

1. Kliegman, Robert M (2015). Nelson Textbook of pediatrics. 20th Ed. Philadelphia: Elsevier, Inc.
2. Gonzalez, Carlos (2012). My child won’t eat how to enjoy mealtimes without worry. 2nd Ed. Great Britain: Pinter and Martin LTD.
3. http://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/childrens-health/in-depth/childrens-health/art-20044948?pg=1
4. http://www.parentsindonesia.com/article.php?type=article&cat=kids&id=228
5. http://id.theasianparent.com/10-cara-mudah-atasi-anak-susah-makan-sayuran/
6. http://www.motherandbaby.co.id/article/2013/11/19/1187/5-Alasan-Anak-Tidak-Suka-Sayur
7. http://www.huffingtonpost.com/maryann-jacobsen/5-ways-children-learn-to-hate-vegetables_b_6265412.html

Cyberbullying – Apa Saja Yang Orangtua Dapat Lakukan?

Summary

Parents are often oblivious or frivolous towards cyberbullying, although a lot of evidence has shown that it has a negative impact on our children’s psychological well-being. This article will explain the social phenomenon of this new type of bullying in the modern world and what are the things parents should do to protect their children.

Ringkasan

Seringkali orang tua tidak tahu atau menganggap sepele cyberbullying. Padahal begitu jelas dampat negatif yang dapat mempengaruhi perkembangan psikis anak. Berikut penjelasan mengenai fenomena sosial di dunia modern ini dan apa saja yang orang tua dapat lakukan untuk melindungi anak anda.

Cyberbullying: Apa yang Dapat Orang Tua Lakukan?

cyberbullying-page2

Apa itu cyberbullying?

Tentu kita tahu tentang istilah bullying yang artinya kegiatan berulang mengganggu atau menindas anak kecil yang dilakukan oleh anak-anak juga. Bila dilakukan oleh orang dewasa maka istilahnya sudah bukan bullying lagi, namun disebut harassment (melecehkan). Cyberbullying masih menggambarkan tindakan yang sama, hanya saja wadahnya berubah dari lingkungan fisik ke lingkungan internet. Tindakan seperti ini sangat mengganggu perkembangan psikis seorang anak, bahkan dapat meningkatkan risiko bunuh diri bila parah.

Karena jenis-jenis cyberbullying sangat banyak, sulit sekali untuk memberikan gambaran yang tepat mengenai tindakan ini. Namun kita dapat mengenali nya bila kita mengamati dengan seksama apa yang terjadi di media digital.

cyberbullying-page2a

Bentuk-bentuk cyberbullying:

1. Penggunaan kata-kata kasar atau hinaan
2. Mengucilkan seseorang dalam suatu kelompok
3. Menyebarkan fitnah (bisa dalam bentuk menyebarkan foto yang telah dimanipulasi)
4. Pelaku berpura-pura menjadi korban dan merusak nama baik korban
5. Menipu atau memanipulasi korban untuk melakukan tindakan yang sebenarnya tidak diinginkan (seperti menyebarkan foto masa kecil, dll.)
6. Cyberstalking: pelaku menguntit semua akun korban di internet dan terus mengganggu korban
7. Pelaku mengunggah video penindasan fisik/verbal yang dilakukan kepada korban, untuk mencari perhatian netizen.

Mengapa Anak Yang Menjadi Korban Jarang Melapor?

cyberbullying-page3

Tidak sedikit anak yang menjadi korban cyberbullying tidak melapor, sebab dalam kondisi yang sangat lemah (karena berulang kali dilecehkan, dll.) mereka takut akan konsekuensinya. Konsekuensinya dapat berupa perasaan malu karena akan dianggap lemah atau cengeng bila melapor, takut pelaku akan semakin menindas, takut tidak ada yang percaya, dan takut kalau orang dewasa akan membatasi penggunaan media digital. Bahkan bila sudah sangat parah, anak akan merasa ‘pantas’ dirinya dilecehkan oleh anak-anak disekitarnya.
Berdasarkan survey 90% anak tidak mau melapor ke orang tua karena mereka mempunyai asumsi bahwa orang tua akan membatasi penggunaan media digital mereka atau orang tua hanya akan bilang “biarkan saja”, tanpa adanya dukungan moral yang sangat dibutuhkan oleh anak.

Apa yang orang tua bisa lakukan?

– Diskusi menggenai penggunaan media digital
Jelaskanlah kepada anak anda untuk belajar bertanggung jawab ketika menggunakan teknologi tersebut (contoh: perlakukan orang lain dengan sopan dan hormat).Bertemanlah dengan anak anda di media sosial, namun jangan lupa diskusikan dahulu dengan anak anda apa saja yang tidak boleh atau boleh dilakukan, serta batasan-batasannya. Ingat, jangan memaksa anak anda untuk mengikuti semua peraturan anda, namun coba dengarkan dulu alasannya. Sebab bila anak anda sudah tidak percaya dengan anda, maka dia tidak akan cerita apabila menjadi korban nantinya.

cyberbullying-page4

– Kenali tanda-tanda dini cyberbullying pada anak
Tanda yang paling jelas adalah anak menjadi kecewa atau kesal setelah memeriksa komputer, e-mail, smartphone, dll. Atau anda juga dapat menggunakan aplikasi untuk mendeteksi atau mencegah cyberbullying di social school [http://www.socialschool101.com/7-apps-to-monitor-cyber-bullying/].

– Ajarkan anak anda untuk menyimpan bukti
Simpan bukti dalam bentuk screenshot, chat history, e-mail, dan sebagainya.

– Ajarkan anak anda kapan untuk memblokir, mengacuhkan, atau melapor
Namun hal ini tidak selalu berhasil sebab pelaku bisa membuat akun baru. Bila demikian, cobalah merespon tindakan pelaku dengan memberikan kalimat pernyataan yang tegas untuk berhenti. Ingat, jangan gunakan kata-kata agresif dan kasar ketika melakukan ini, karena malah akan memperparah cyberbullying.

– Perlukah memblokir situs media sosial?
Jika anda memblokirnya maka anda memposisikan anak anda yang sudah menjadi korban dan malah menghukumnya untuk tidak mengakses media komunikasi tersebut. Tindakan ini akan semakin membuat anak anda tidak percaya diri dan menutup kemungkinan untuk mendapatkan manfaat bergaul dan belajar di dunia digital. Jauh lebih baik apabila anda menjelaskan tanggung jawab dan hak pengguna media sosial dengan benar, serta kapan harus melapor. Alternatif lain dapat juga menggunakan applikasi untuk memonitor tindakan cyberbullying.

– Komunikasikan dengan orang tua si pelaku
Meskipun tidak selalu efektif, tetapi ini merupakan langkah yang bijak. Lebih baik lagi bila anda mengirimkan surat berserta bukti kejadian (dalam bentuk screenshot atau dicetak di kertas) ke orang tua si pelaku. Tidak kalah penting ketika anda mengontak orang tua pelaku jangan gunakan kata-kata “pelaku” karena mereka akan menjadi sangat defensif. Gunakanlah kata-kata “ada tindakan seperti ini terhadap anak saya” yang terdengar lebih netral tanpa ada maksud menuduh.

cyberbullying-page5

– Selalu belajar sebagai orang tua yang baik
Ikutilah seminar mengenai cyberbullying. Pelajarilah mekanisme dan serba serbi cyberbullying dari sumber yang terpercaya. Konsultasikanlah dengan pakarnya seperti psikolog atau psikiater sebelum menyalahkan anak karena menggunakan media digital.
Penulis: dr. Andrew Adiguna Halim

Referensi:

Cowie, H. (2013). Cyberbullying and its impact on young people’s emotional health and well-being. The Psychiatrist, 37(5), 167-170. doi:10.1192/pb.bp.112.040840

Gordon, S. (2015, 31 Juli). Eight reasons why victims of bullying do not tell. Diunduh dari: http://bullying.about.com/od/Victims/a/8-Reasons-Why-Victims-Of-Bullying-Dont-Tell.htm

Kowalski, R. M., Limber, S., & Agatston, P. W. (2012). Cyberbullying: Bullying in the digital age (2nd ed.). Malden, MA;Chichester, West Sussex, UK: Wiley-Blackwell.

Kowalski, R. M., Morgan, C. A., & Limber, S. P. (2012). Traditional bullying as a potential warning sign of cyberbullying. School Psychology International, 33(5), 505-519. doi:10.1177/0143034312445244

Patchin, J., & Hinduja, S. (2010). Bullying, cyberbullying, and suicide. Archives of Suicide Research, 14(3), 206-221. doi:10.1080/13811118.2010.494133